Saturday 19th of March 2011 04:05:47 PM
Posted In Ruang Luar

Pentingnya Jarak Antar Bangunan Rumah

Apakah hubungan kita dengan tetangga juga akan semakin lengket ketika tembok rumah kita juga saling menempel? Jangan-jangan malah sebaliknya, tembok yang menempel ini menjadi runyam dan merusak silaturahmi yang semula telah terjalin.

Tanpa adanya jarak antar bangunan, tembok rumah kita akan menempel dengan rumah tetangga, yang akibatnya dapat saling merugikan. Apabila terjadi sesuatu pada tembok tersebut, tidak mengherankan apabila tembok kita pun terkena dampaknya. Sayangnya, ketika hal tersebut terjadi, tidaklah semudah itu protes kepada tetangga untuk menghentikan pembangunan, renovasinya, atau apapun itu.

Selain itu, menempelnya tembok rumah kita dengan tembok tetangga ternyata menyembunyikan masalah-masalah lain. Masalah-masalah tersebut adalah masalah air resapan, masalah cahaya matahari, masalah sirkulasi udara, dan resiko ketika terjadi kebakaran. Mari kita simak sharing singkat dari sudut pandang Armila, seorang penulis muda berbasis arsitektur Universitas Pelita Harapan.

 

 

Tembok menempel dengan tembok tetangga

Pada masa sekarang, rasa-rasanya sudah semakin jarang rumah yang dibangun di bagian tengah lahan, dengan dikelilingi banyak taman dan ruang kosong pada sisi kanan dan kiri bangunan. Tembok rumahlah yang menjadi batas antara hunian kita dengan milik tetangga. Melihat kondisi perumahan-perumahan yang padat, hal ini memang terlihat wajar. Apalagi memaksimalkan penggunaan lahan untuk bangunan seakan-akan dapat mengimbangi tingginya harga tanah maupun bahan bangunan.

            Memang wajar ketika kita berusaha memaksimalkan lahan yang kita miliki menjadi sebuah ruang dan tempat yang dapat terhuni. Bahkan hal tersebut adalah inti dari arsitektur. Namun ketika kita menghuni rumah yang juga memiliki tetangga di sekeliling kita, rumah kita harus dapat menyesuaikan diri. Untuk itulah, diperlukan sedikit tindakan preventif dari kita untuk kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan. Caranya adalah dengan menyediakan jarak yang cukup di antara satu rumah dengan rumah lainnya.

 

Pentingnya jarak antar bangunan (antar rumah) yang sering diabaikan

”Ah tidak perlu, lah. Saya sudah berencana tidak akan merenovasi rumah di kemudian hari”, mungkin itulah yang terlintas di benak Anda. Namun siapakah yang menyangka apabila tetangga sebelah rumah tiba-tiba merenovasi dan meningkat rumahnya. Kita mungkin tidak pernah menduganya. Dan ketika tetangga menambah tingkat rumahnya, ujung-ujungnya justru kitalah yang sewot karena menjadi wadah tampiasan dari rumah sebelah.

            Pernah suatu kali seorang ibu separuh baya yang rumahnya bertetangga dengan pemilik salon mengeluh karena merasa dirugikan. Pasalnya, ibu tersebut merasa si pemilik salon dengan sengaja terus membangun dan meningkat rumahnya yang dijadikan usaha salon. Memang pada saat salonnya itu mulai berkembang pesat dan renovasi pun dilakukan di sana-sini. Sayangnya, renovasi ini tidak seiring dengan keharmonisan si ibu dengan pemilik salon.

Hubungan mereka yang semula erat kemudian menjadi perang dingin. Karena merasa dirugikan, sang ibu melarang anak-anaknya untuk memilih salon tersebut untuk merawat diri. Padahal sejak salon itu dibuka, kedua putrinya merupakan pelanggan yang cukup setia dan memiliki hubungan yang dekat dengan orang-orang di dalamnya. Ternyata kesalahpahaman tersebut bermula dari masalah air yang mengucur dan tampias langsung dari lantai atas bangunan ke arah rumah si ibu. Hal ini menyebabkan merembesnya air hujan ke dinding rumah.

Sebenarnya, rumah si ibu pun telah mengalami renovasi berulang-ulang, jauh sebelum sang empunya salon membuat rumahnya bertingkat. Dari halaman carport yang terbuka, telah disulap menjadi ruang keluarga yang tertutup, seiring dengan meningkatnya kebutuhan ruang di rumahnya. Satu hal sederhana yang terlupakan, yaitu bahwa kedua rumah itu kini tidak memiliki jarak antar bangunan dengan rumah tetangganya, dan keduanya menjadi full bangunan.

 

Jarak Antar Bangunan Mengatasi Masalah Air Resapan

            Masalah semakin bertambah ketika rumah tersebut berbeda level ketinggian, air yang merembes dari satu rumah ke rumah lainnya tidak merata sehingga mengikutsertakan pihak lainnya. Belum lagi ketika tetangga merenovasi dindingnya, kadang-kadang tembok kitapun dapat retak terkena imbasnya. Tembok di bagian dalam ruang keluarga yang semula baik saja, dapat ikut menjadi rusak karena rembesan air dari tembok tetangga. Demikian pula sebaliknya.

Dengan adanya jarak antar rumah, air yang meresap di tembok dapat dialirkan lewat ruang antara. Ruang antara dapat berupa dak beton yang diberi floor drain alias lubang air untuk menyalurkan pembuangan air. Jangan lupa untuk memberikan beberapa derajat kemiringan agar tidak menimbulkan masalah baru seperti air tergenang.

Bagian bawah ruang antar bangunan juga dapat diisi dengan tanah, rerumputan, maupun batuan kerikil besar. Pengisian ini selain dapat menjadi peresap air juga dapat meningkatkan kualitas tanah di area tersebut karena memungkinkan tumbuhnya vegetasi.

Jarak Antar Rumah Mengatasi Masalah Pencahayaan dan Sirkulasi Udara

Terlebih pada hunian yang bertingkat, jarak antar bangunan harus semakin diusahakan demi penghawaan yang baik. Karena tidak menempel dengan tembok tetangga, tentunya bukaan berupa jendela dapat lebih leluasa untuk diaplikasikan. Banyaknya jendela akan semakin memperlancar aliran udara dan angin di dalam rumah. Hawa di dalam pun bebas pengap dan menjadi lebih segar. Ruangan dengan pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik juga dapat mencegah tumbuhnya jamur karena kualitas kelembapan yang baik.

Pada jarak antar bangunan, bagian atasnya dapat diberi tutup sebagai filter kawat nyamuk untuk mencegah masuknya serangga atau binatang-binatang. Hal ini memungkinkan kita membuka jendela sesering mungkin. Penutup jarak antar bangunan juga dapat berupa kaca maupun railing untuk shading.

 

Tanpa ditutup pun, jarak antar bangunan rumah ini bisa efektif sumber angin dan cahaya. Terutama pada bangunan bertingkat, aliran angin yang dihasilkan diantara 2 bangunan tembok semen bahkan dapat setara dengan menyalakan AC pada waktu siang. Tentunya selain meningkatkan kualitas hunian, hal ini dapat meningkatkan efisiensi pemakaian listrik.

 

 

            Pada rumah yang berderet rapat dan saling menempel dengan rumah di sebelahnya, sangat memungkinkan terjadi resiko rambatan nyala api pada saat kebakaran. Dengan adanya jarak antarbangunan rumah pun dapat mengurangi resiko tersebut, karena celah berupa jarak antar bangunan itu paling tidak dapat memberi waktu jeda untuk kobaran api dan masih memungkinkan para penghuni untuk menyelamatkan dirinya.

Jadi, mengapa Anda tidak merelakan sedikit ruang di antara rumah Anda dengan rumah tetangga demi menyelamatkan kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan Anda sekeluarga? Juga tentunya untuk menyelamatkan hubungan Anda dengan tetangga Anda. (AA)

more

Thursday 17th of March 2011 02:55:21 PM
Posted In Perencanaan

Menyiasati Kekurangan Hunian yang Menghadap Barat

 (disadur dari tulisan berjudul Mengakali Rumah Hadap Barat)

oleh Reiny Dwinanda REPUBLIKA, 6 Januari 2008)

 

Di Indonesia, hunian yang menghadap selatan telah seringkali dianggap pakem bagi pakar arsitektur karena beberapa hal mendasar, seperti pencahayaan yang teduh serta aliran angin yang memadai. Dengan menghadap ke arah selatan, sinar matahari sebagai pencahayaan alami dapat tetap masuk namun panasnya tidak masuk langsung. Hal ini berbeda dengan hunian menghadap barat yang seringkali dihindari dengan alasan masuknya hawa panas bersamaan dengan sinar matahari di sore hari.

Namun masalahnya sebuah pemilihan arah hadap rumah tidak bisa selamanya ideal. Terlebih lagi apabila rumah tersebut telah jadi dan siap dihuni (atau bahkan itu adalah rumah tercinta yang Anda tempati sekarang). Pertanyaannya, bagaimana jika rumah Anda 'terpaksa' menghadap ke arah selain selatan, bahkan menghadap barat? Mungkinkah permasalahan tersebut dapat dihindari? Mari kita simak kiat-kiat yang disampaikan oleh seorang arsitek studio berbasis arsitektur hijau, Denny Setiawan, dalam menjawab permasalahan Catur Wicaksono, salah seorang pemilik rumah tinggal yang menghadap barat.

Permasalahan utama rumah yang menghadap barat adalah masuknya sinar matahari langsung ke dalam rumah, yaitu pada siang hari, sekitar pukul 14.00 hingga sore hari 16.30 WIB. Keadaan ini akan menyebabkan meningkatnya panas di dalam rumah, bahkan taman rumput di depan rumah pun akan terasa sangat panas. Tentu saja hal seperti ini sangat mengganggu dan dapat berdampak bagi kenyamanan para penghuninya. 

Menurut Denny Setiawan, banyak hal bisa dilakukan untuk mengusir panas pada lingkungan rumah tinggal, baik saat proses desain atau bahkan ketika rumah sudah telanjur berdiri. Hal tersebut dapat dimulai dari memasang kisi-kisi sampai membuat bukaan serong.

 

Kisi-kisi dapat dijadikan sebagai solusi untuk mengurangi intensitas panas matahari yang masuk ke dalam rumah. Fungsinya adalah sebagai secondary skin. Ia akan menghalangi panas matahari menerobos masuk ke ruang privat yang tentu saja lebih diharapkan teduh daripada gerah. Selain dari segi fungsinya, peletakan kisi-kisi yang tepat dapat menambah estetika hunian dan awet. Bahkan apabila pemilihan material kayu dan besi cukup berkualitas, kisi-kisi dapat bertahan lebih dari 10 tahun.

Selain kisi-kisi, ketinggian plafon juga dapat mendatangkan kesan lapang dan menjadikan hawa yang lebih adem. Alasannya adalah karena hawa panas selalu naik ke atas. ''Ketika tempat berkumpulnya hawa panas jauh dari permukaan lantai, otomatis hawa panas tidak mengganggu aktivitas penghuni rumah,'' jelas Denny Setiawan. Meski demikian, bukan berarti Anda disarankan untuk membangun plafon setinggi mungkin. Anda cuma perlu membangunnya dengan ketinggian proporsional.

Kiat berikutnya yang dapat diusahakan untuk menciptakan hunian yang lebih adem, dapat dicapai dengan ventilasi silang. Caranya adalah dengan memberikan bukaan (contohnya jendela) pada dua dinding yang berbeda. Dengan ventilasi silang, udara dapat mengalir lebih lancar. ''Tiap ruang mesti punya jendela. Sayangnya, kini banyak rumah dibangun penuh tanpa menyisakan taman belakang. Itulah yang membuat rumah makin gerah. Intinya, tiap ruang harus bersentuhan langsung dengan udara luar. Tanpa adanya cross ventilation, plafon tinggi tak ada gunanya,'' kata sang arsitek menegaskan.

 

AC bukanlah jawaban yang terbaik

Menggunakan mesin penyejuk udara (AC) memang solusi singkat yang dipilih banyak orang. Tetapi, pilihan itu mendatangkan masalah baru: tagihan listrik yang membengkak. Di samping itu, adanya kompresor AC di luar ruang justru akan membuat udara sekelilingnya menjadi lebih panas. Padahal hunian di iklim tropis semestinya dapat dibangun dengan tidak mengandalkan AC sebagai pengusir hawa panas.

Untuk mendukung fungsinya, kisi-kisi dapat dikombinasikan dengan menambahkan tanaman rambat sebagai tirai di muka rumah sehingga semakin efektif untuk dapat mengusir hawa panas. Dana yang dibutuhkan pun masih cukup wajar dan terjangkau, hanya perlu disiram tentunya.

Anda dapat mewujudkan taman vertikal yang memanjakan mata serta menyejukkan atmosfer sekitar rumah. Selain cantik, tanaman pun lebih fungsional karena dapat meredam panas di area sekitar hunian. Jadi, jangan remehkan fungsi vegetasi di halaman rumah, karena ternyata halaman juga dapat berupa dinding itu sendiri. Denny pun menambahkan, bahwa dengan memanfaatkan vegetasi sebagai dinding, penghuni rumah akan mendapatkan pasokan oksigen plus peredam panas yang baik.

Pembagian ruang di hunian Anda juga dapat menjadi salah satu kunci untuk menyiasati hawa panas Usahakan agar ruang utama alias ruang yang dijadikan tempat beraktivitas, tidak diposisikan di area yang lama terkena sinar matahari supaya Anda tidak terlalu merasa gerah saat beraktivitas di ruang keluarga atau kamar tidur. Nah, sebagai gantinya, posisikan area servis di bagian depan. Panas yang menyengat dapat dimanfaatkan untuk mengeringkan pakaian atau menerangi dapur serta area mencuci. Agar tampak depan rumah tidak terlihat berantakan, diperlukan kamuflase, misalkan dengan sebuah dinding taman vertikal.

Selain cara-cara tersebut, pastikan Anda meminimalkan jendela yang menghadap barat dan menambahkan jendela yang menghadap ke arah utara atau selatan. Namun apabila tidak memungkinkan mengurangi jendela yang menghadap barat, bukaan yang menyerong 30 derajat hingga 45 derajat dapat menjadi trik jitu yang menghasilkan keteduhan dalam rumah. Dengan begitu, panas matahari tidak secara langsung menyeruak ke ruang-ruang pribadi Anda. ''Prinsipnya, cahaya matahari memang diperlukan, tetapi panasnya harus kita buang'', ujar Denny menyimpulkan. (AA)

more