Thursday 20th of January 2011 05:32:00 PM
Posted In Interior

Jendela Sebagai Bukaan Rumah

Dewasa ini, kita semakin sering menjumpai produk-produk modern yang dipakai seiring dengan kebutuhan untuk serba cepat dan serba praktis. Hal tersebut pun dijumpai pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, tempat kita berada. Berlangsungnya semua proses, baik itu pembangunan hingga pemasangan material seakan menuntut kecepatan maksimalnya. Proses pemilihan material pun seringkali terkesan grasa-grusu agar segera dapat mencapai target waktu dan biaya tanpa memperhatikan dampaknya lebih lanjut.

Apalagi dengan mengusung konsep minimalis di sana-sini, yang dianggap paling penting adalah fokus terhadap gaya dan suasana hunian persis seperti yang diinginkan. Material-material yang cepat pasang (quick-fix) menjadi semakin diminati konsumen di tanah air, tak terkecuali kita sebagai pihak pemilik rumah. Pemilihan material didasarkan pada segi kemudahannya saja, misalnya kaca bentang lebar maupun material-material baja.

 

“Quick-fix” is quick but not so fixed

Namun tidak semua material yang siap pakai tersebut telah ramah lingkungan. Kaca, misalnya, ternyata kurang tepat digunakan di daerah tropis seperti di Indonesia. Hal ini dikarenakan permukaan bidang material tersebut dapat menyerap hingga 80% dari panas matahari. Tentu saja keadaan yang demikian menyebabkan efek yang negatif terhadap lingkungan, termasuk  efeknya terhadap penghuni. Sirkulasi hawa di dalam rumah bisa jadi terasa panas akibat pemakaian kaca yang berlebihan.

Kalau sudah demikian, solusi yang diambil adalah yang tercepat, dan seringkali bukan yang terbaik. Contohnya, apabila udara panas di dalam rumah. Alih-alih membenahi sistem sirkulasi, bukaan, dan tata ruang dalam hunian, pendingin ruangan atau AC (baca: air conditioner) selalu terpilih menjadi solusi karena dianggap menjawab persoalan lebih cepat dan tepat sasaran. Sudah benarkah pilihan kita? Untuk mengupas hal tersebut lebih lanjut, kami mencoba memperkenalkan beberapa prinsip yang dapat membuka wawasan Anda.

 

Mengenal prinsip ”transparan”

Seringkali yang terbersit dalam pikiran adalah sesuatu bidang permukaan yang tembus pandang. Ketika dikaitkan dengan bangunan, material yang terlintas adalah kaca. Gambaran selanjutnya yang terpikirkan adalah bentuk jendela. Namun apakah sesempit itukah prinsip transparan?

            Transparan dalam istilah arsitektur adalah tingkatan kualitas material atau materiality yang masih dapat dilewati cahaya masuk dan memungkinkan kebebasan visual (David Hutama, 2010). Cahaya dapat berupa sinar matahari maupun lampu. Sedangkan kebebasan visual artinya keleluasaan sejauh pandangan untuk dapat melihat apa yang ada di balik bidang transparan tersebut.

Sebenarnya prinsip transparan dapat bersanding dengan prinsip void atau lubang penghawaan. Memang, kaca dapat difungsikan sebagai bukaan sumber cahaya. Teknik pemasangan kaca yaitu dengan daun jendela berfungsi sebagai rangka pemegang kaca, yang sering disebut dengan kusen. Hanya saja pemasangan kaca yang juga kerap ditemui berupa kaca mati (fixed), yang tidak dapat dibuka sehingga tidak memungkinkan adanya pertukaran cahaya.

Perkembangan kaca dengan teknologi baru: sistem double glass

Untuk mencapai transparasi ruang hunian yang langsung bersentuhan dengan udara luar, ada baiknya kita menganut sistem double glass atau kaca berganda. Perkembangan kaca dengan teknologi baru ini mampu membuat panas atau heat yang masuk melalui permukaan kaca diteruskan pada ruang hampa yang berada antara kedua kaca.

Pemasangan sistem double-glass ini telah tersedia dalam bentuk terintegrasi dengan kusen (biasanya aluminium) tetapi relatif agak mahal. Untuk menyiasatinya, kita dapat memasang dua jenis kaca berjajar. Kaca yang lebih tebal diletakkan bagian yang bersentuhan dengan panas dari luar rumah, sementara kaca yang lebih tipis pada bagian sebelah dalam. Beri jarak antara kedua permukaan kaca tersebut sekitar 6-8 cm. Selain sebagai penyimpan pansa, sistem double glass ini juga memiliki tingkat akustik yang tinggi karena menjadikan rongga di antara kedua permukaan kaca tersebut hampa udara sehingga kedap suara.

Optimalisasi modul-modul kaca dengan luasan bidang yang lebih kecil

Teknik lain yang dapat diaplikasikan pada hunian untuk mendapatkan efek transparan adalah dengan optimalisasi modul-modul kaca tersebut ke dalam luasan bidang yang lebih kecil. Nakas merupakan salah satu contoh penerapan modul-modul kaca tersebut.

Dibandingkan jendela, nakas memiliki luasan yang lebih kecil untuk menyimpan panas sehingga efek panasnya terbagi-bagi pada tiap modul, dan bukan seluas permukaan kaca. Ini membuat akumulasi panas yang disimpan pada permukaan nakas lebih kecil dibandingkan kaca jendela dengan bentangan yang lebih lebar. Kerapatan dan kerenggangan nakas juga dapat lebih disesuaikan sehingga memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menyalurkan udara masuk ke dalam ruangan sesuai kebutuhan.

 

Material lain selain kaca untuk jendela rumah

Alih-alih menggunakan kaca sebagai material transparasi, Anda juga. dapat menggantikannya dengan PVC, akrilik, atau material transparan lain yang meredam hantaran panas. Namun perlu diingat bahwa pemakaian material-material tersebut harus diimbangi dengan penanaman vegetasi yang memberikan kesejukan, juga dipadukan dengan material-material natural seperti batu-batuan gunung atau batu alam.

Apabila menginginkan keterbukaan pada nuansa rumah, mengapa hanya jendela kaca yang menjadi pilihan? Masih ada cara lain yang dapat diterapkan supaya hunian menjadi lebih transparan. Cobalah untuk menjadikan void  pada bagian yang sudah semestinya terbuka. Bagian yang masih terasa panas dan terkena hujan dapat dipasangi shading atau peneduh di bagian luar ruangan.

(AA)

more

Thursday 20th of January 2011 05:12:56 PM
Posted In Interior

Penggunaan Teksture Sebagai Keseluruhan Ornamen Dalam Hunian Anda

 

Dalam sebuah hunian, kenyamanan dan keindahan adalah dambaan setiap anggota keluarga. Beragam upaya dilakukan untuk mendapatkan kedua hal tersebut. Mulai dari membaca artikel-artikel yang membahas penataan ruangan, mengunjungi showroom dan rumah contoh pada perumahan tertentu, hingga menggunakan jasa desainer interior untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Dari berbagai media yang telah kita lihat tersebut, terbukti bahwa untuk mendapatkan kenyamanan dan keindahan ruangan tidak hanya ditentukan dari bentuknya maupun mahalnya perabotan yang dipakai. Kenyamanan dan keindahan dapat tercipta apabila adanya suatu harmoni atau keselarasan di antara elemen-elemen ruangan secara menyeluruh. Keselarasan tersebut disebut dengan istilah komposisi ruang. Sebuah rumah yang kecil dengan perabotan sederhana pun dapat terlihat apik dengan komposisi yang tepat. Begitu pula sebaliknya, rumah yang besar dan mahal justru dapat terlihat kosong maupun terlalu ”ramai” sehingga kurang nyaman untuk ditinggali, apabila tidak memiliki komposisi ruang yang baik.

 

Tekstur Sebagai Elemen Pembentuk Komposisi Ruang

Salah satu elemen pembentuk komposisi ruang adalah tekstur. Tekstur adalah sesuatu yang dapat kita lihat dan rasakan (dengan jari) pada sesuatu permukaan. Terdapat dua macam tekstur, yaitu optikal yang hanya dapat terlihat secara visual sebagai tekstur, dan taktikal yang dapat kita sentuh dan rasakan. Tekstur pada interior dan eksterior ruangan dapat diperoleh dari pembedaan pilihan material. Contohnya adalah material tekstur keramik, material batu alam, dan finishing semen.

Tekstur dapat dipergunakan sebagai keindahan pajangan di seluruh area ruangan. Misalnya pada bagian dinding, partisi, maupun pada bagian lantai. Dengan adanya tekstur, permukaan dinding, partisi, maupun lantai Anda dapat menangkap dan memantulkan cahaya yang ada. Pantulan cahaya tersebut akan menghasilkan “lukisan” alami dari perpaduan terang dan gelap yang didapat dari permainan cahaya dan bayangan yang mengenai dinding tersebut. Hasilnya ruangan akan tampak lebih dramatis dengan gradasi warna cat yang dihighlight dengan cahaya dan bayangan alami.

 

 

Pembedaan Kebutuhan Antara Tekstur Dinding Dan Tekstur Lantai

Material interior dengan tekstur taktikal dapat diterapkan sesuai dengan perbedaan kebutuhannya. Maksudnya adalah tekstur tersebut sekaligus dipergunakan karena dapat mendukung fungsinya. Sebut saja pada lantai kamar mandi, kita perlu menggunakan material lantai yang bertekstur agak kasar, supaya kesat (tidak licin) sehingga tidak membahayakan keselamatan penghuni. Berbeda dengan tekstur pada ruang kerja atau ruang keluarga, dapat dipilih lantai dengan tekstur yang halus dan lebih licin untuk mendapatkan kesan sleek dan mengkilap.

Demikian pula pada bagian teras atau halaman rumah, tekstur yang taktikal lebih sering dipergunakan. Contohnya adalah dengan material batu kali, material kerikil, dan material batu alam. Selain memberikan keamanan dan keselamatan (menghindari terpeleset), tekstur taktikal pada material dapat memperkuat kesan natural atau alami.

 

Tips-Tips Kreatif Untuk Pemasangan Dan Olahan Tekstur

Perlu diingat bahwa meskipun secara penampilan dinding Anda terlihat indah, ketahanan dan keamanannya tetap yang utama. Karenanya, sebelum mulai berkreasi dengan tekstur, pastikan dinding Anda terhindar dari dinding bergelombang dan retak dengan pembuatan yang lebih terencana. (Tips tentang pengecatan dan perlakuan terhadap dinding dapat Anda lihat pada artikel sebelumnya pada SBS Interior)

Permukaan yang bertekstur akan menjadi elemen yang menarik perhatian dalam sebuah komposisi. Untuk itu, penting bagi Anda untuk menentukan permukaan mana yang menjadi elemen fokal untuk ditempatkan dinding bertekstur. Misalnya, ditempatkan pada bagian yang berhadapan dengan bukaan dan sumber cahaya, dengan tujuan memberikan efek ruangan yang dramatis. Sebaiknya tidak menempatkan segala jenis tekstur yang berbeda-beda secara campuran pada seluruh bagian dinding, karena dapat membingungkan maksud yang ingin Anda sampaikan dalam ruangan.

 

Terdapat beberapa cara yang diperoleh untuk menghasilkan tekstur sebagai ornamen dalam ruangan Anda. Cara pertama, adalah secara langsung mengaplikasikan material bertekstur pada ruangan Anda. Misalnya dengan aplikasi batu alam, keramik, dan juga guratan pada acian semen dinding. Hanya saja Anda perlu menyisakan sedikit tenaga ekstra untuk membersihkan permukaan secara berkala, karena permukaan yang bertekstur dalam lebih berpotensi menyimpan debu.

 

Cara lainnya adalah dengan mengaplikasikan wallpaper bertekstur pada bagian ruangan. Cara ini cenderung lebih praktis dalam pengerjaan dan perawatannya, karena permukaan yang rata tidak menyimpan debu sebanyak permukaan yang bertekstur. Namun kekurangan pada cara ini adalah tekstur yang dipakai lebih mengarah pada tekstur optikal, yang lebih bersifat visual sehingga tidak terasa ketika diraba.

Tekstur juga dapat dihadirkan dengan prinsip pajangan yang dapat dimodifikasi menurut keinginan. Komposisi tekstur sebagai pajangan dapat bersifat lebih fleksibel, karena sifatnya yang tidak terlalu permanen. Pajangan tekstur dapat berupa material kanvas, maupun permukaan kayu atau rotan, yang juga mudah didapatkan dengan teknik fotografi makro dari berbagai sudut. Selanjutnya, foto tersebut dicetak dalam modul-modul dalam dimensi yang diinginkan.

Komposisi tekstur pajangan dapat berupa dimensi pajangan memanjang (landscape atau portrait), maupun dimensi foto yang tersegmentasi (dibelah-belah). Dengan pengambilan dari berbagai sudut dari sebuah objek foto, dapat dihasilkan kesan yang menarik dalam sebuah tekstur. Misalnya, pada ruang kosong di bagian atas sofa ruang keluarga Anda masih terkesan putih dan hampa. Kita dapat memberikan foto tekstur daun hijau muda segar yang berembun dari jarak dekat. Kini ruang keluarga Anda mendapatkan sentuhan tekstur sekaligus kesegaran secara visual. (AA)

more